Senin, 13 Juni 2011

TOKOH FILSAFAT MODERN

BAB I : FILSAFAT ZAMAN BAROK
A. R. Descartes
Riwayat hidup
Rene Decartes (Latin: Renatus Cartesius)lahir di La Haye Perancis, tahun 1596. Dia bersekolah di Kolose Yesuit di Anjou. Di Universitas ia belajar hokum dan kedokteran, karena dia tidak senang akan cara hidup Kaum Borjuis lingkungannya, Descartes lalu menjadi tentara di Jerman.


Tulisan-tulisan penting R. Descartes
1637 --- Discours de la method (Uraian tentang metode)
1641 --- Meditationes de prima philosopia (Renungan-renungan tentang metafisika)
1644 --- Principia philosophia (Prinsip-prinsip filsafat)

Pikiran-pikiran pokoksian
a. Kesangsian metodis
Descartes tidak puas dengan filsafat pada zamannya. Filsafat ini kurang sistematis . terutama kekurangan suatu metode ilmiah. Metode yang cocok untuk memperbarui filsafat adalah “Kesangsian Metodis”.
b. Cogito ergo sum
Descartes berkata: “Jika saya ragu-ragu terhadap sesuatu, saya masih mempunyai kepastian tentang kesangsian saya, maka saya sedang berpikir, dan kalau saya berpikir, saya ada. Je pense, done je suis;Cogito,ergo sum,” kalau saya berpikir maka saya ada.
c. Subyek sebagai pusat
Menurut Descartes manusia sendiri menjadi kekuasaan yang “membawa”, “memikul” kenyataan. Manusia yang berpikir adalah pusat dunianya. Berkat ide ini, Descartes menjadi Bapak Filsafat modern.
d. Ide-ide jelas dan tegas
Descartes berkata: saya mempunyai kepastian tentang ide “saya berpikir, maka saya ada, karena ide inilah ide menjadi “jelas dan tegas”.
e. Dualism
Salah satu ide “Jelas dan Tegas” dari Dercartes adalah bahwa ada tiga subtansi: Allah, pemikiran (cogitation) dan keluasan (extension). Pemikiran itu bidang psikologi, bidang jiwa. “kelausaan” itu bidang ilmu alam, bidang materi.
Pengaruh
Secara umum Descartes dipandang sebagai titk pangkal filsafat zaman modern. Pengaruhnya sangat besar, tidak hanya dalam bidang filsafat, tapi juga ilmu pasti, ilmu pesawat, ilmu alam, dan kedokteran dipengaruhi oleh Descartes.

B. B. Spinoza
Riwayat hidup
Baruch (Latin : Benedictus,portugis : Bento) de Spinoza lahir di Amsterdam, tahun 1632, dari keluarga Yahudi yang telah melarikan diri dari Portugal(dimana orang Yahudi dipaksakan untuk menjadi Katolik). Spinoza belajar Teologi Yahudi,bahasa-bahasa klasik dan filsafat. Dia sangat tertarik pada filsafat Descartes, terutama metode Descartes mengenai motode ilmu pasti yang akan menjadi peranan penting dalam pemikiran Spinoza. Spinoza dikeluarkan dari sinagoge di Amsterdam sebab pikirannya dianggap ortodoks.dia mendapat tawaran untuk menjadi guru besar. Namun sepanjang hidupnya Spinoza puas dengan pendapatannya sebagai ahli optika. Dia dikunjungi oleh Leibniz, dan berkorespondensi dengan pemikir-pemikir lain di zamannya. Tahun 1677 Spinoza meninggal di Den Haag.

Tulisan-tulisan penting
1670 --- Tractacus theologico-politicus
1677 --- Ethica, ordine geometric demonstrate (Etika, dengan bukti-bukti menurut metode ilmu ukur)
1677 --- Tractacus politicus

Pikiran-pikiran pokok
a. Rasionalisme dan Mistik
Filsafat Spinoza merupakan ramuan antara rasionalisme dan mistik. Bentuk tulisan Spinoza memperlihatkan pengaruh Descartes,Plotinos,Bruno dan pemikir-pemikir Arab dan yahudi. Ada dua interpretasi dari pikiran Spinoza yang cukup berbeda. Yang pertama interpretasi rasionalistis, memandang pikiran Spinoza sebagai contoh paling murni dari panteisme. Intepresi yang kedua memandang Spinoza sebagai panties, tapi Spinoza disini digambarkan seorang yang sangat religious.
b. Allah = Alam = Satu Subtansi
Menurut Spinoza, seluruh kenyataan merupakan kesatuan, dan kesatuannya ini sebagai satu-satunya subtansi itu semua sama dengan Allah atau Alam. Dalam cara ini Spinoza dapat mengatakan cinta pada Allah, itu cinta kepada nasib, Amorfati.
c. Etika
Pedoman untuk menjadi bahagia disajikan dalam Ethica Spinoza. Tulisan ini seperti buku ilmu ukur. Setiap Bab mulai dengan aksioma-aksioma dan atas dasar ini diberi dalil-dalil yang kemudian dibuktikan. Tujuan etika ini adalah kebahagiaan. Kebahagiaan itu menurut Spinoza adalah kebebasan.
d. Kebebasan untuk berpikir
Tulisan Tractatus Theologico-politicus dianggap sangat penting untuk sejarah filsafat modern oleh Spinoza. Dalam tulisan ini disajikan “Tafsir Bebas” dari Kitab Suci (untuk memperlihatkan bahwa kitab suci tidak dapat dipakai untuk pembenaran politik konservasif). Namun kecuali sebuah traktat tentang tafsir, tulisan ini juga merupakan traktar tentang kebebasan politik.
Pandangan Spinoza mengenai substansi tunggal merupakan tanggapannya atas pemikiran Descartes tentang masalah substansi dan hubungan antara jiwa dan tubuh. Dalam filsafat Descartes, terdapat sebuah permasalahan yaitu bagaimana Allah, jiwa, dan dunia material dapat dipikirkan sebagai satu kesatuan utuh? Dalam bukunya Ethica, ordine geometrico demonstrata (Etika yang dibuktikan dengan cara geometris), Spinoza mencoba menjawab permasalahan ini.] Ia memulai menjawab permasalahan dari filsafat Descartes dengan memberikan sebuah pengertian mengenai substansi.] Substansi dipahami sebagai sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri dan dipikirkan oleh dirinya sendiri, artinya sesuatu yang konsepnya tidak membutuhkan konsep lain untuk membentuknya. Menurut Spinoza, sifat substansi adalah abadi, tidak terbatas, mutlak, dan tunggal-utuh. Bagi Spinoza, hanya ada satu yang dapat memenuhi definisi ini yaitu Allah. Menurut Spinoza, sifat substansi adalah abadi, tidak terbatas, mutlak, dan tunggal-utuh. Bagi Spinoza, hanya ada satu yang dapat memenuhi definisi ini yaitu Allah. Hanya Allah yang memiliki sifat yang tak terbatas, abadi, mutlak, tunggal, dan utuh. Selain itu, Spinoza juga mengajarkan apabila Allah adalah satu-satunya substansi, maka segala yang ada harus dikatakan berasal dari pada Allah. Hal ini berarti semua gejala pluralitas dalam alam baik yang bersifat jasmaniah (manusia, flora dan fauna, bahkan bintang) maupun yang bersifat rohaniah (perasaan, pemikiran, atau kehendak) bukanlah hal yang berdiri sendiri melainkan tergantung sepenuhnya dan mutlak pada Allah. Untuk menyebut gejala ini, Spinoza menggunakan sebuah istilah yaitu modi. Modi merupakan bentuk atau cara tertentu dari keluasan dan pemikiran. Dengan demikian, semua gejala dan realitas yang kita lihat dalam alam hanyalah modi saja dari Allah sebagai substansi tunggal. Dengan kata lain, alam dan segala isinya adalah identik dengan Allah secara prinsipil. Kata kunci ajaran Spinoza adalah Deus sive natur (Allah atau alam). Yang berbeda dari ajaran ini hanyalah istilah dan sudut pandangnya saja. Sebagai Allah, alam adalah natura naturans (alam yang melahirkan). natura naturans dipandang sebagai asal-usul, sebagai sumber pemancaran, sebagai daya pencipta yang asali. Sebagai dirinya sendiri, alam adalah natura naturata (alam yang dilahirkan) yaitu sebuah nama untuk alam dan Allah yang sama tetapi dipandang menurut perkembangannya yaitu alam yang kelihatan. Dengan ini Spinoza membantah ajaran [Descartes]] bahwa realitas seluruhnya terdiri dari tiga substansi (Allah, jiwa, materi). Bagi Spinoza hanya ada satu substansi saja, yakni Allah/alam.

Pengaruh
Spinoza (“the noblest and most lovable of the great philosophers,”) kata Bertand Russel) dalam abad ketujuh belas dan kedelapan belas dipandang sebagai pemikir yang paling modern. Namun baru sekitar tahun 1800 kepentingannya diakui secara umum, terutama melalui pemikir-pemikir seperti schelling, Lessing, Goethe dan Hegel. Dalam dunia barat filsafat Spinoza sekarang dianggap sebagai Panteisme mistik-rasional.

C. G. Leibniz
Riwayat hidup
Gottfried Wilhem Leibniz lahir di Leipzig, Jerman, tahun 1646. Ayahnya mengajar hokum dan etika, Leibniz sendiri juga belajarhukum dan filsafat, terutama filsafat skolastik dan Descartes. Leibniz dianggap seorang genius. Dia menguasai hamper semua ilmu, dia hidup sebagai seorang diplomat dan bibliotekaris, dan dia menerbitkan tulisan-tulisan tentang filsafat, teologi,sejarah,hokum dan ilmu pasti.

Tulisan-tulisan terpenting
1710 ---- Essai de Theodice sur la bonte de Dieu, la berte de l’homme et porigine du mal (Karangan tentang teodise , mengenai kebaikan Allah dan kebebasan maunisia dan asal kejahatan.
1714 ---- La monaligue

Pikiran-pikiran pokok
a. Monadologi
Menurut Spinoza hanya ada satu subtansi: alam atau Allah. Descartes membedakan tiga subtansi: Allah,Pemikiran, dan keluasan. Namun menurut Leibniz jumlah subtansi tak terhingga besarnya. Subtansi itu disebut sebagai monade-monade atau titik-titik. Leibniz berpendapat ada banyak substansi. Substansi itu disebut monad (monos=satu; monad=satu unit). Ada yang terkecil dlam matematika yang disebut titik. Dalam fisiak yang terkecil itu atom. Dalam metafisika yang terkecil itu adalah monad. Kata terkecil hendaknya tidak dipahami sebagai ukuran, melainkan sebagai tidak berkeluasan, maka monad itu bukan benda. Monad-monad bukanlah kenyataan jasmaniah, melainkan kenytaaaan mental,yangterdiir daripersepsi fan hasrat. Leibniz membayangkan monad sebgai forces primitives daya puraba yang tidak material, melinkan spiritual. Dengan kata lain, yang ia maksud sebagai monad adalah kesadaran diri tertutup, sejajar dengan cogito tertutup Decartes. Dalam sebuah pernyataannya ynag kemudian termasyur, dia mengatakan sebagai berikut: Monad-monad tak memiliki jendela tempat tempat sesuatu biss keluar atu masuk. Karena itu, setiap monad memiliki sudut pandangnya sendiri dan sudut pandang ini melukiskan kenyataan yang melingkunginya. Di antara monad-monad tak ada interaksi, sebab masing-masing memrupakan kenyataan mental yang sudah cukup diri. Monad adalah sebuah system tertutup yang cukup diri. Setiap monad tak lain daripada cermin hidup alam semesta.
Penjelasan Leibniz bahwa monad-monad sudah cukup diri menimbulkan persoalan. Bagaimana aku mengetahui kenyataan di luar diriku? Jawaban Leibniz adalah sebagai berikut. Setiap monad memiliki sifat-sifat yang jumlahnya tak terhingga, sebab setiap monad mencerminkan seluruh alam semesta dari sudut pandangnya. Dengan kata lain, setiap monad mencerminkan semua monad lainnya. Misalnya, saat aku menyadari selembar daun jatuh di depanku, kesadaranku itu merupakan sebuah keadaan dari monad yang mencerminkan keadaan monad-monad lain yang bersama-sama mengidentifikasikan “daun”, sedemikian rupa sehingga dari sudut pandang kesadaranku yang kacau, daun itu kusadari dalam keadaan “jatuh”.
Kalau dunia dan kesadaran adalah monad-monad yang terisolasi satu sama lain, bagaiman menjelaskan gejala adanya ketertaturan dan hubungan timbal balik. Leibniz menjawab adanya Allah pada saat penciptaan mengadakan keselarasan yang ditetapkan sebelumnya di antara monad-monad. Jadi, meskipun monad-monad memiliki momentumnya sendiri-sendiri, mereka toh cocok satu sama lain,s ehingga menimbulkan ilusi bahewa mereka berinteraksi satu sama lain. Misalnya, air yang ditetapkan di atas api menjadi panas bukan karena api, melainkan monad air, api danpanas bersesuaian satu sama lain. Allah, si tukang arloji itu, telah menetapkan bahwa peristiwa yang terjadi pada monad lain. Jadi, hubungan timbal balik di antara monad-monad hanya kelihatannya ada. Lalu apakah Allah itu? Dalam pemikiran Leibniz Allah juga monad, tetapi bukan sembarang monad, melainkan monad purba yang merupakan aktivitas murni, actus purus.
Sumbangan sistem monadologi adalah penghargaan terhadap bagian-bagian alam semesta ini di mana bagian-bagian ini mempunyai keterkaitan satu sama lain, terutama dalam menciptakan suatu keadaan terhadap realitas alam semesta ini.
b. Harmonia praestabilita
Semua monade diatur dalam suatu Harmonia praestabilita, harmoni yang telah ditatapkan sebelumnya oleh Allah,. Allah telah menciptakan dunia sedemikian rupa,sehingga semua keaktifan monade mempunyai suatu appetites (“tujuan,keinginan atau kehendak”) didalam mereka.
c. Theodice
Leibniz adalah pencipta kata teodise “pembenaran Allah” terhadap kejahatan.
d. Dinamisme
Sumbangan yang paling penting kepada filsafat mungkin adalah “dinamisme”-nya Leibniz, pendapat bahwa segala sesuatu pada hakekatnya merupakan “energy” “kekuatan” (dinamis) kalau dicari bagian-bagian kecil dari materi-materi sub atomis, semua istilah memang kehilangan artinya: sama baik/jelek untuk mengatakan bahwa materi itu akhirnya “energy” dengan mengatakan bahwa materi akhirnya “masa”, “zat”, “subtansi” materi itu suatu “proses yang bersifat energy/masa.

Pengaruh
Leibniz tidak pernah mengajar di Universitas. Filsafatnya baru diajari di sekolah melalui muridnya Christian Wolff(1679-1754). Wolff menyusun suatu system filsafat yang bersifat dogmastis, dan yang sangat berpengaruh, sampai publikasi-publikasi tulisan-tulisan kami 1724-1804. Banyak istilah dari “system Leibniz-Wolff” sekarang masih dipakai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar